Timor Leste Butuh Pariwisata

ESTRELAONLINE.CO-Saat ini, industri pariwisata adalah sektor ekonomi ketiga terbesar di Timor Leste setelah sumber daya alam dan pertanian.

Gas bumi dan minyak serta hal yang terkait dari sektor ini menyediakan 90% penerimaan pemerintah.

Namun penerimaan diperkirakan akan turun dengan tajam dalam beberapa tahun ke depan, akibat proyek-proyek minyak dan gas saat ini sudah mulai kering.

Meski sektor minyak dan gas menguasai ekonomi, industri ini tidak menyerap banyak lapangan pekerjaan. Sebagian besar proyek berada di lepas pantai dan pemerintah hanya mendapatkan royalti.

Pariwisata, sebaliknya, memiliki potensi untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan di Timor Leste.

“Saya kira jika Anda melihat kemungkinan dan potensi untuk memperkerjakan orang Timor di sebuah industri dengan kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan ketrampilan yang jauh lebih mungkin dibanding menjadi seorang insinyur minyak dan gas, saya pikir dampak investasi di industri pariwisata akan sangat besar,” kata Susan Marx perwakilan Asia Foundation di Timor Leste.

Saat ini, meski demikian, menurut Perdana Menteri Rui Maria de Araújo, Timor Leste tidak tertarik untuk menjadi Bali yang berikut.

“Fokusnya adalah wisata komunitas. Kami tidak ingin pendekatan industrialisasi atas pariwisata di negeri ini,” dia berkata.

Mungkin tidak terlihat ambisius, namun dapat menjadi target yang lebih realistis.

Bali dan Phuket saat ini memiliki industri pariwisata miliaran dolar, namun mereka harus memulainya dari nol.

Bukan Bali atau Phuket

Namun tntangan terbesar dalam menghasilan uang dari sejarah atau budaya Timor adalah membangun infrastruktur dari nol. Bahkan wisata lokal sering dikunjungi masih tak layak.

Pulau Atauro berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan dengan kapal dari pusat kota Dili.

Ada pantai dengan pemandangan gunung yang indah di belakangnya. Air laut membalut perahu cadik disepanjang garis pantai. Lautnya jernih dan karang terdekat dapat dengan mudah dicapai hanya dengan berenang dari pantai.

Pantainya sebagus pantai lain di Bali atau Phuket. Dan nyaris kosong. Itulah daya tarik untuk sebagian pengunjung, namun orang-orang yang mejalankan usaha di sini tidak begitu senang.

Mereka mengatakan kurangnya fasilitas membuat keadaan makin sulit.

“Kami hanya memiliki listrik selama 12 jam. Atau bahkan hanya enam jam. Terkadang tak ada sama sekali selama berbulan-bulan,” kata Lina Hinton dari kawasan wisata lingkungan bernama Barry’s Place.

Barry’s Place memiliki 28 pegawai dan Lina berkata mereka butuh lebih banyak pengunjung. Saat ini, kebanyakan tamu adalah orang-orang yang bekerja di Dili untuk PBB atau organisasi-organisasi non pemerintahan.

Alasannya antara lain adalah Timor Leste relatif sulit dan mahal untuk dicapai. Hanya ada tiga penerbangan dalam seminggu dari Singapura, tiga kali sehari dari Bali dan delapan kali seminggu dari Darwin.

Untuk mencapainya juga sangat sulit.

Misalnya, perjalanan 150km dari Dili ke pesisir selatan membutuhkan sekitar tujuh jam dengan (harus menggunakan) mobil empat gardan.

Dan tak selalu berjalan mulus. Di tempat ini, perjalanan bisa dibatalkan hanya beberapa saat sebelumnya karena operator perjalanan tidak bisa menemukan mobil atau karyawan hoterl tidak bisa mengopreasikan mesin kartu kredit dan meminta Anda ke ATM di gedung sebelah yang jua tidak jalan. Dan saya mengalami kedua masalah itu.

Untuk beberapa orang, masalah seperti itu tetap bernilai demi pengalaman unik. Namun uang wisatawan cenderung digunakan untuk kenyamanan.(*)