Staf Ahli Kantor Presiden Mendeklarasikan Bergabung dengan LBGT Timor Leste

SURABAYAONLINE.CO – Kalau di Indonesia aksi LGBT bakal menuai protes, namun tidak demikian halnya dengan negara Timor Leste. Komunitas Lesbian Gay Biseksual dan Transgender atau LGBT Timor Leste menggelar aksi di ibukota Dili dalam acara yang disebut Free To Be Me 2016 atau Bebas Menjadi Saya, Jumat 17 Juni 2016 lalu. Yang menarik dari aksi ini salah satu staf ahli Presiden Timor Leste menyatakan bergabung dengan LGBT

Aksi seperti ini tergolong langka di negara yang memisahkan diri dari Indonesia lewat referendum tahun 1999 lalu, yang mayoritasnya penduduknya merupakan umat Katolik.

Namun selama ini mereka terus berupaya untuk menghilangkan diskriminasi terhadap kaum gay dan lesbian dan mensosialisasikan HIV/AIDS, seperti dilaporkan Amito Konusere Arauj dari Dili untuk BBC Indonesia.

Pegiat komunitas LGBT, Mariano da Silva Nunes, mengatakan Free To Be Me 2016 ingin menunjukan kepada seluruh masyarakat Timor Leste bahwa kaum LGBT merupakan sesama manusia yang mempunyai hak hidup.

“Hidup sebagai seorang LGBT, memang sulit untuk menghadapi dengan lingkungan, karena masyarakat menpunyai pikiran yang bermacam-macam terhadap kita, tetapi kami berusaha untuk berbuat yang baik,” kata Mariano atau Lala di sela-sela acara Free To Be Me 2016.

Dia menambahkan komunitas yang dipimpinnya kini telah mempunyai anggota lebih dari 600 orang.

Seorang peserta aksi yang berasal dari Indonesia, Yoga Putra, mengharapkan hendaknya masyarakat tidak menilai mereka dari penampilan yang berdasarkan kebencian.

“Kenali orangnya dulu, baru kita bisa menilai,” tambahnya.
Silverio Pinto Baptista, Ketua Komisi Nasional HAM Timor Leste mengatakan dalam acara itu, Mai ita proteje maluk LGBT sira nia direitus humanus. “Mari kita lindungi hak asasi manusia saudara-saudara LGBT kita.”

Dalam acara itu, Bella Galhos, salah satu penasihat ahli di Kantor Presiden, hadir dan sekaligus menyatakan diri secara terbuka sebagai anggota komunitas LGBT. (bbc.com)