Xanana Gusmao Dibalik Konfrontasi dengan Australia

ESTRELAONLINE.CO- Timor Leste bergejolak saat rakyatnya menggelar unjuk rasa besar-besaran selama dua hari di Kedutaan Besar Australia di Dili, Selasa-Rabu (22-23/03). Unjuk rasa itu bahkan merembet ke Melbourne, Australia, dan melibatan masyarakat setempat yang prihatin dan bersimpati.

Aksi besar-besaran itu ditujukan sebagai protes terhadap pemerintah Australia yang menolak bernegosiasi dengan Timor Leste mengenai perbatasan Laut Timor yang kaya minyak dan gas.

Sidney Morning Herald melansir, bahwa warga Timor Leste memanas dan turun ke jalan setelah mantan Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, menyeru agar rakyatnya melakukan aksi protes.

Unjuk rasa itu diikuti sedikitnya 10 ribu massa terdiri dari rakyat sipil, mahasiswa, veteran perang kemerdekaan, bahkan pegawai negeri sipil. Itu merupakan yang terbesar sejak negara tersebut melepaskan diri dari Indonesia pada 1999.

Pada malam sebelum aksi, Xanana mengatakan Timor harus “berdiri teguh dan mengangkat satu suara” untuk menuntut Canberra melakukan negosiasi dengan Timor Leste.

Timor Leste mengklaim telah kehilangan sekitar US$ 5 miliar (Rp 66 triliun) royalti dan penerimaan pajak di Laut Timor sejak kemerdekaan. Padahal angka tersebut cukup untuk membiayai semua anggaran negara selama tiga tahun.

Negara yang terbilang masih muda tersebut menegaskan bahwa mereka akan sejahtera dari royalti dan pajak eksploitasi Laut Timor jika norma-norma Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dipatuhi Australia. Jika merujuk pada UNCLOS, Laut Timor, yang memiliki cadangan minyak dan gas, akan terletak dalam wilayah mereka.

Para pengunjuk rasa berteriak “lepaskan minyak Timor” dan “negosiasi sekarang” serta menuntut kasus ini dibawa kembali ke pengadilan.(monitorday.com)